Sabtu, 29 November 2008

Followership

Banyak sekali buku, artikel, dan seminar yang membahas soal leadership. Banyak perusahaan, lembaga pemerintah, LSM melakukan workshop dan pelatihan mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan mumpuni. Tapi sangat jarang sekali buku, artikel, atau seminar mengenai bagaimana menjadi follower yang baik dan efektif. Bahkan saya belum pernah mendengar ada workshop dan pelatihan di Indonesia mengenai followership. Padahal seorang pemimpin (leader) tak akan bisa jalan tanpa pengikut (follower). Leadership tak akan oke kalau followership-nya tidak oke. Pemimpin sehebat dan sekarismatik Gandi, Jack Welch, Aa Gym, atau Cacuk, tak akan bisa berbuat apa-apa tanpa andil pengikut-pengikutnya.

Kebetulan belum lama ini saya membaca sebuah buku yang bagi saya sangat inspiratif berjudul, Courageous Follower. Tesis buku ini simpel sekali: bahwa hubungan pemimpin-pengikut adalah hubungan yang sejajar, bukan hubungan atas-bawah. Dari pengalaman saya melakukan konsultasi di berbagai perusahaan, saya melihat barangkali sekitar 80-90% pemimpin bisnis masih melihat hubungan pemimpin-pengikut sebagai hubungan atas-bawah: si pemimpin di atas, si pengikut di bawah; si pemimpin lebih dominan dan powerful, si pengikut lemah dan selalu terkalahkan; si pemimpin meng-empower pengikut, si pengikut di-empower si pemimpin; si pemimpin merumuskan visi, si pengikut menjalankan visi tersebut; pemimpin menjadi subyek, si pengikut menjadi obyek penderita. Inilah, saya kira, kesalahan terfatal dari seorang pemimpin.

Konsep kepemimpinan di buku teks manapun seharusnya diredefinisi dengan menempatkan hubungan pemimpin-pengikut bukan lagi hubungan atas-bawah, tapi hubungan egaliter yang saling mendukung, saling memberi, saling mengingatkan, dan saling melayani. Tak hanya si pemimpin yang mengembangkan potensi pengikutnya, si pengikut juga harus mengembangkan potensi pemimpinnya. Tak hanya si pemimpin yang memberdayakan pengikutnya, si pengikut juga harus memberdayakan pemimpinnya kalau memang si pemimpin loyo. Tak hanya si pemimpin yang mengarahkan pengikutnya, si pengikutpun harus mengarahkan si pemimpin kalau visi yang dia bangun melenceng dari tujuan organisasi. Semakin si pemimpin mendominasi dan menjadi tiran bagi si pengikut, maka bisa saya pastikan, semakin tak beres kepemimpinan yang dihasilkannya. Hasil kepemimpinan yang sama buruknya juga akan didapat, jika si pengikut begitu pasif memposisikan diri di bawah, kemudian ABS (asal bapak senang) dan tidak berani mengoreksi si pemimpin.

Saya paling tertarik dengan model yang diajukannya. Kata buku ini, setiap organisasi apapun apakah itu bisnis, politik, LSM, selalu saja memiliki dua unsur yaitu pemimpin dan pengikut. Pemimpin-pengikut ini diikat oleh misi dan tujuan bersama (common purpose) dan nilai-nilai (shared values) yang dipegang oleh organisasi tersebut. Tujuan tak lain adalah apa yang ingin dicapai oleh organisasi, sementara nila-nilai adalah hal-hal yang dianggap paling baik untuk menjalankan organisasi. Keduanya merupakan ”lem” yang mengikat setiap tindakan pemimpin-pengikut. Si pemimpin dan si pengikut ini bersama-sama berjuang untuk mewujudkan misi dan tujuan organisasi, berlandaskan nilai-nilai yang diyakini organisasi tersebut.

Pemimpin dan pengikut secara bersama-sama haruslah menjadi ”penjaga” misi dan tujuan organisasi. Kalau si pengikut melakukan tindakan yang menyimpang dari misi dan tujuan organisasi, maka menjadi kewajiban si pemimpin untuk meluruskannya. Begitu juga sebaliknya jika si pemimpin yang justru melakukan penyimpangan, maka si pengikutlah yang seharusnya mati-matian mencegahnya. Karena itu tak hanya pemimpin yang harus take risk, si pengikutpun haruslah take risk. Kenapa? Karena melakukan konfrontasi terhadap pemimpin yang menyeleweng bukanlah tanpa resiko. Bisa-bisa ia dipecat karena konfrontasi itu.

Tak hanya si pemimpin yang punya tanggung-jawab mewujudkan misi dan tujuan organisasi, si pengikut sama bertanggung-jawabnya dalam mewujudkan misi dan tujuan tersebut. Si pemimpin haruslah melayani si pengikut dalam mewujudkan misi dan tujuan tersebut, sebaliknya si pengikut juga harus melayani pemimpinnya. Seorang pemimpin harus mampu mengembangkan pengikutnya, sebaliknya si pengikut haruslah mampu mengembangkan pemimpinnya. Kalau dalam buku teks kepemimpinan kita sering mendengar bahwa pemimpin haruslah memberdayakan (empower) pengikutnya, maka sebaliknya, pengikut juga harus mampu memberdayakan pemimpinnya. Dari sinilah kita sepakat bahwa hubungan pemimpin-pengikut haruslah hubungan partnership, sejajar, dan egaliter.

Misi dan tujuan organisasi merupakan ”jantung” yang menentukan hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Loyalitas seorang pengikut seharusnya bukanlah kepada si pemimpin tapi kepada misi dan tujuan organisasi. Begitu si pemimpin menyimpang dari misi dan tujuan, maka tugas si pengikut bukannya ikut arus si pemimpin tapi, tapi justru menentang si pemimpin untuk masuk ke rel misi dan tujuan organisasi.

Hal ini barangkali ironis kalau kita melihat kasus di negeri ini. Begitu si pemimpin melakukan korupsi, maka ini justru digunakan oleh si pengikut sebagai pembenaran untuk juga melakukan korupsi. Itu sebabnya saya mengatakan bahwa negeri ini tak hanya lack of leadership, tapi juga lack of followership.

All Marketer Are Liar

Membangun merek adalah meracik dan menyebarkan cerita!
Anda ingin merek atau produk Anda sukses bukan kepalang? Raciklah cerita-cerita yang indah dan sebarkanlah ke sebanyak mungkin prospek Anda.
Bisa cerita itu beneran. Bisa juga cerita itu boong-boongan...ups! [...setidaknya menurut Seth Goddin—baca buku kocaknya: All Marketers Are Liars!].

Produk atau merek sesungguhnya tak lebih dari sekedar CERITA! Dan karenanya, jualan merek atau produk tak lain adalah JUALAN CERITA.

Nggak percaya?
Jualan BreadTalk tak lebih dari jualan cerita—cerita mengenai ”roti yang bisa berkisah”. Jualan Starbucks tak lebih dari jualan cerita—cerita mengenai ”ngopi sambil cuci mata dan mejeng—”see and to be seen”. Jualan Harley Davidson tak lebih dari jualan cerita—cerita mengenai “naik motor keren, macho, dan Amrik abis. Jualan A Mild adalah jualan cerita—cerita bahwa seharusnya Anda menjadi manusia merdeka, tak terkungkung oleh stigma sosial bernama ”basa basi”.

Apakah betul BreadTalk roti yang bisa berkisah? Apakah betul Harley Davidson macho dan Amrik abis? Apakah betul ngopi di Starbuck Mal Kelapa Gading Anda tambah keren dan menjadi pusat perhatian banyak orang? [Setidaknya bagi saya...] itu semua bullshit!!! Kebetulan saya bukanlah tipe orang yang suka dikibuli dengan trik-trik pemasaran... brand story-lah, brand personality-lah, brand identity-lah, brand-essence-lah, dsb-dsb.

Di dunia ini banyak orang kayak saya, yang nggak peduli dengan buzzword dan trik-trik pemasaran. Cuma... CELAKA 13, banyak juga orang yang nggak kayak saya. Banyak orang yang suka romantis, suka dihipnotis, suka dibohongi, suka dikibuli. Itu sebabnya BradTalk sukses bukan main... itu sebabnya Starbuck sukses bukan main.

Dalam hal ini saya percaya dengan Godin, bahwa semua marketer adalah pembohong besar. All Marketers Are Liars! Tapi tunggu dulu... marketer pembohong besar bukannya tanpa sebab. Sumbernya justru ada di si pelanggan. Karena si pelanggan memang SUKA dibohongi. Customers love to be cheated. Jadi semua kebohongan ini bukan semata-mata salahnya si marketer. Si pelanggan lah pihak yang paling bertanggung jawab kenapa marketers harus menjadi pembohong besar...

Apakah cerita BreadTalk sahih? Apakah cerita Harley indah menentramkan jiwa? Cerita A Mild benar adanya? Itu semua tergantung kita pelanggan. Kalau kita percaya bahwa cerita itu benar, ya jadinya benar. Tapi kalau kita percaya [kayak saya] cerita itu bullshit, ya jadinya cerita itu tak lebih dari sekedar bullshit belaka.

Ingat satu hal ini!
Pelanggan paling SUKA di-bullshit-in.
Pelanggan paling SUKA dibohongi.
Pelanggan paling SUKA membohongi diri sendiri.
Pelanggan tak butuh NEEDS, dia butuh WANTS—“Kutahu yang kumau”.
Itu sebabnya marketer [memang harus] menjadi pembohong besar!
Marketer menjadi pembohong besar karena pelanggan suka dibohongi... itulah esensi terdalam dari apa yang disebut CUSTOMER-CENTRIC.

Kesimpulannya...
Marketer dan pelanggan telah terperosok ke dalam l-i-n-g-k-a-r-a-n kebohongan yang tak berujung. Lingkaran kebohongan yang mutualistik, yang win-win, yang membawa NIKMAT. Nikmat bagi si marketer. Nikmat bagi si pelanggan. Kalau sudah begini, so what gitu lho... Apa jeleknya marketer menjadi pembohong besar?
Nggak ada jeleknya. Justru sebaliknya, [persis seperti kata Seth Godin] untuk menjadi marketer Anda harus menjadi pembohong kampiun. Good Marketer is good liar!

Awas!!!
Barangkali penulis adalah marketer yang sedang membohongi Anda semua para pembaca...

Selasa, 27 Mei 2008

La Tahzan

Apa perbedaan laki-laki dengan toilet ?

toilet tidak akan mengikuti kamu, setelah kamu 'memakainya'

Apa perbedaan wanita dengan baterai?

Baterai mempunyai sisi positif

Apa perbedaan sepeda yang bannya kempes dengan istrimu?

Sepeda yang bannya kempes harus dipompa dulu sebelum kamu menaikinya. kalau istrimu, harus dinaiki dulu sebelum kamu memompanya

Dari bkc1215@cc.m-kagaku.co.jp

1. Piring apa yg pualing ramai dan berisik ?
2. Keris apa yg bikin ketakutan semua orang ?
3. Besar, panjang, putih jalan cepat ?
4. Gajah apa yg kurus banget...?

1. Piringatan tujuh belas agustus
2. Keristiwa kebakaran
3. Kereta api diperban
4. Gajah lagi ikut program diet, ......( duileee )

Dari : Hady@trl.co.id

Mana Kalimat yang benar dalam Bahasa Indonesia di bawah ini :
a. Joni adalah ayah Amir
b. Ayah Amir adalah Joni
c. Amir ayahnya joni

Kaga ada yang bener, yang bener adalah : Ayah Amir adalah Markum (tetangga gua)

Dari : M. Nazir

Apa bedanya si Doni yang besar dengan gajah?

Gajah, dikepalanya ada belalai, kalau si Doni dibelalainya ada kepala

Dari : galeri9@telkom.net

apa beda susu cap nona dengan susu nona?
Kalau susu cap nona kental manis. Kalau susu nona kental-kentul lebih manis

Dari : Jusuf H
mengapa kodok kalau mau nyebrangi rel kereta mesti loncat ?

Karena kalau mau muter kejauhan

Dari : op_bonet@mailcity.com
Bunga apa yang paling berbahaya di kebun raya bogor, kalo diem di bawahnya selama 5 menit pasti akan mati?

Bunga teratai

Dari : bray85@mail.com
Kenapa mayat dibungkus kain putih?????

kalau hitam , siapa takut!!!!

Dari : celoteh@rileks.com

ada lima ekor kuda. yang tiga lari, kudanya tinggal berapa ?

tetap lima, soalnya yg tiga lari ditempat

Dari : Pemasaran
Apa bedanya burung cendrawasih dengan perempuan ?

burung cendrawasih adalah burung surga, sedangkan perempuan adalah surga burung

Dari : default@hotmail.com

Ada 3 orang, si buta, si tuli, sama si bisu. Ketiganya sedang makan di restoran padang. Abis makan, ternyata si buta bayarin temen-temennya. Kenapa coba?
Si buta lagi ulang taun!

Dari : khoent@fiberia.com

Kalo Tarzan ulang tahun, siapa yang gak dateng ?

ayam ... soalnya ada di kulkas gue ...

Dari : bray85@mail.com

Apa persamaan Jemuran dan Telefon??????

sama sama KRING!!!!!

Dari : atiep@cbn.net.id

ada seorang pemetik kelapa sedang menaiki pohon kelapa, di tengah-tengah pohon kelapa tiba-tiba di bawah pohon kelapa ada 5 ekor singa dan di atas pohon kelapa ada seekor ular yg siap mematuk si pemetik kelapa, apa yg harus di lakukan si pemetik kelapa..?

ya turun aja yg di bawah pohon kan cuma ekor singanya aja , ngapain takut..

Dari : sundi

olah raga apa yang paling berat???

catur. masa kuda ama benteng diangkat-angkat

Dari : al74@hotmail.com

telor apa yang kalo diinjak sampe seribu orangpun nggak bakalan pecah?

Telortoar

Dari : barmby

Ada ayam lima.Dikali 2.Berapa semuanya?

ya 5.soalnya yang di kali 2.di darat 3

Dari : andria

apa beda sangkar burung sama rok cewek??

kalo sangkar burung dibuka, keluar burung
sedangkan kalo rok dibuka, masuk burung

Dari : errixx@astaga.com

Apa perbedaan rok dengan roket ?

Roket makin keatas makin nggak kelihatan sedangkan rok makin keatas makin kelihatan

Dari : mukkuang@rileks.com

Kenapa anak babi kalo jalan nunduk

Karena malu punya ibu seekor babi

Dari : tania@rileks.com

oleh-oleh apa yang dibawa kakek-kakek kalo pulang dari berendam di laut ?

Telor asin

Dari : dannyh@bi.go.id

Apa perbedaan antara Apel dan Upil

Apel di taruh di atas meja
Upil dioles di bawah meja

Dari : ant_rif@yahoo.com

Beda auangan srigala buta ama yang ngga buta?

Yang normal : AUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU

Yang buta : AUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU.....ah gelap.......

Dari : yos

Waktu tanggal 10 Nopember 1945 ada 10 prajurit ikut perang, eh ketembak satu. Sekarang prajuritnya tinggal berapa?

Tinggal 1009 orang, khan ada lagunya "....gugur satu, tumbuh s'ribu...."

Dari : mod

Kenapa laki-laki nggak bisa kena penyakit sapi gila?

Sebab mereka buaya!!!

Dari : 300883@astaga.com

bila gajah jadi ayam, lalu singa jadi ayam,dan kambing jadi ayam. maka ayam menjadi apa?

Ayam jadi banyak

Dari : Yves

apa persamaan gajah sama tiang listrik?

sama-sama nggak bisa terbang

Dari : s_heri_p@usa.net

apa bedanya sekretaris baik sama sekretaris seksi ?

sekretaris baik "selamat pagi pak"

sekretaris seksi "sudah pagi pak"

Dari : igas@astaga.com

Apa perbedaan Kucing sama laki-laki

Kalau Kucing dielus-elus pasti tidur

Kalau Laki-laki dielus-elus..yah jadi 'bangun'

Dari : adibw@lycos.com

Kenapa kuda delman pakai kacamata yang cuma bisa melihat ke arah depan?

Supaya nggak melihat kusirnya waktu dibayar penumpang, nanti minta bagian lagi...

Dari : jaw_tek@bsg.co.id

Kenapa stir mobil letaknya kalau 'nggak dikanan ya dikiri.. khok 'nggak ditengah..? Biar gampang kalau mau ngeludah

Dari : nasir

Apa Beda Daun Pepaya dengan tangan cewek ...?

daun pepaya bisa bikin daging lunak kalo' tangan cewek bisa bikin daging keras

Dari : iyan

apa bedanya Baby cewex ma baby cowox ???

Baby cewex nete'nya cuma ampe umur 5 th, taphie ... kalo baby cowox nete'nya SEUMUR hidup !!!

Dari : abarri@cbn.net.id

apa bedanya jatuh dari lantai 1 dengan jatuh dari lantai 13?

Kalau dari lantai 1, bunyinya "bruuk...aaa...", kalau dari lantai 13 bunyinya "aaa...bruukkk..."

Dari : Mety

Kenapa Bumi makin panas?

Karena Matahari Buka Cabang dimana-mana

Dari : 130bdhkug

apa bedanya kawin ama nikah?

kalo nikah pake surat

kalo kawin pake urat

Dari : ghieta@mailcity.com

bulet, panjang 15 cm-an warna gelap terletak diantara 2 paha laki-laki. Apakah itu?

rem becak boo....

Dari : ilers@chickmail.com

Kenapa batman bersayap?

Supaya tidak berkerut dan tidak tembus ke samping

Dari : superephi@yahoo.com

apa perbedaan aksi dengan demo ?

kalo aksi rodanya empat kalo demo rodanya tiga

Dari : 130bdhkug

mengapa kalo orang ketakutan bulu kuduknya berdiri ?

karena di kuduknya tidak ada kursi

Dari : Zainal AS

Apa bedanya sepeda baru sama pengantin baru?

Kalo sepeda baru menghindari lubang tapi kalo pengantin baru mencari "lubang"

Dari : lemot@rileks.com

kalo di liat dari jauh ada dua, tapi kalo dari deket cuman satu?

salah liat loe

Dari : sugiyanto

Kenapa ayam kalo tidur biasanya kakinya diangkat satu?

Karena kalo diangkat semua jatuh

Dari : Adi

kenapa superman bajunya berlambang huruf S ?

karena kalau pake m atau xl kegedean

Dari : boedoet@hotmail.com

Perbuatan jelek apa yang dikutuk oleh setan?

Memperkosa anak setan

Dari : bl_net03@yahoo.com

Panjang mana ekor tikus sama ekor kuda?

Panjang ekor tikus, karena tikus kalo jalan ekornya nyentuh tanah

Dari : galeriop@telkom.net

Kenapa dipinggiran rel kereta api diberi kerikil?

Karena kalo diberi pisang goreng pasti jadi rebutan

Dari : boedoet@hotmail.com

Binatang apa yang paling bodoh?

Kebo geger otak...udah kebo geger otak lagi

Dari : boedoet@hotmail.com

Apa bedanya lebah dengan cowok?

Kalo' disengat lebah, seminggu baru sembuh.

Kalo' disengat cowok, 9 bulan 10 hari baru sembuh

Senin, 26 Mei 2008

Kisah Petani Jagung

Seorang reporter suatu ketika menanyai seorang petani untuk membocorkan rahasia mengenai jagung yang ditanamnya, kok bisa tahun demi tahun selalu memenangkan lomba di desanya. Petani mengaku, semua itu hanya karena ia membagi bibit jagungnya dengan para tetangganya.
"Lho, kok anda mau dan bersedia berbagi benih jagung anda dengan para tetangga lainnya, apabila kalian semua setiap tahunnya sama-sama berlomba dalam pameran yang sama ?", tanya wartawan itu lagi.
"Lho Pak...", kata petani itu : "Bapak masak tak tahu ? Angin itu meniup dan menghembus serta menebarkan tepung sari dari bunga yang matang dan menerbangkan keliling dari ladang keladang. Kalau tetanggaku cuma menanam jagung mutu buruk, persilangan-antar yang terjadi secara terus menerus akan menurunkan kwalitas jagungku. Jadi bila aku mau menanam jagung bermutu bagus, aku harus membantu para tetanggaku menanam hal yang sama.
Jadi begitulah juga halnya dengan situasi-situasi lainnya kehidupan kita. Mereka yang ingin sukses dan berhasil, harus membantu para tetangganya, teman-teman, dan para sanak kerabatnya agar juga bisa berhasil. Mereka yang memilih untuk hidup nyaman dan enak haruslah membantu orang-orang lain hidup sejahtera dan makmur, sebab nilai suatu hidup itu diukur oleh kehidupan-kehidupan lain yang disentuhnya

Membawahkan Orang yang Lebih Senior

Mengapa orang tua punya kelebihan? Karena, mereka punya pengalaman yang tidak dimiliki orang muda. Orang tua memang tak salah kalau kerap diposisikan sebagai orang yang kenyang makan asam garam kehidupan. Kata Kong Hu Cu alias Confucius, usia tua memberi kesempatan arif. Wajarlah, mereka pun diposisikan sebagai tempat bercermin generasi di bawahnya, karena senioritas yang dimilikinya. Namun, lintasan sejarah pun mencatat kiprah orang-orang muda. Kartini menggulirkan ide kesetaraan saat usianya masih muda. Begitu pula Soekarno, yang memulai kariernya sebagai politikus ketika masih menyandang predikat pelajar.

Usia memang bukan kelebihan. Di dunia bisnis pun, orang-orang muda makin menyemarakkan kancah bisnis. Profesional muda yang membawahkan karyawan lebih senior dari sisi usia, sudah pemandangan biasa. Di perusahaan-perusahaan yang masih kental dengan budaya paternalistis, khususnya di perusahaan swasta lokal dan BUMN, senioritas sangat mewarnai budaya kerja. Alhasil, senioritas kerap menjadi kendala.

Lain halnya di perusahaan yang telah menerapkan budaya egalitarian, seperti perusahaan asing. Di sini, tak muncul budaya senioritas. Siapapun yang menjadi pimpinan -- anak muda sekalipun -- dipastikan sistemnya tetap berjalan normal. Tidak ada yang membedakan, dari sisi usia, status maupun pengalaman. Tak heranlah, dalam pergaulan kerja antarkaryawan pun akrab memanggil nama saja, tanpa embel-embel pak atau bu. Begitu terbuka.

Perlu trik-trik khusus menyiasati senioritas. Pengalaman Ainun Na`im, Vice President Senior Korporat dan CFO Pertamina, dapat menjadi potret sukses membawahkan orang-orang yang lebih senior dari sisi usia dan pengalaman. Ainun yang lama berkiprah sebagai pengajar sangat menyadari mayoritas karyawan di bawahnya lebih senior dibanding dirinya. Ia bergabung dengan Pertamina pada Februari 2000, ketika usianya menginjak 42 tahun.

Di Pertamina, unsur senioritas demikian tinggi dan pejabatnya demikian dihormati. Dalam pandangannya, sebenarnya rasa hormat itu wajar-wajar saja. Bukan berarti, hanya bawahan yang harus menghormati atasan. Sebaliknya, atasan pun harus menghormati bawahan. Saling menhargai atau mutual respect itu sedang dicanangkan Pertamina saat ini. Menurutnya, ia siap menghargai siapapun, atasan ataupun bawahannya. Termasuk, memberikan hak ke semua karyawannya untuk bisa bertemu dengannya.

Ainun mengaku tidak merasakan adanya hambatan, ketika dihadapkan pada kenyataan tersebut. Maklum, ia sudah terbiasa bekerja dalam satu tim dengan orang-orang yang lebih senior. Saat di kampus, misalnya, dia sering memimpin beberapa proyek yang anggotanya rata-rata lebih tua. Semua karyawan di Pertamina, termasuk mereka yang senior, diakuinya sangat menghormati kehadirannya. Ainun sama sekali tidak menemui hambatan atau semacam penolakan dari para pegawai Pertamina yang umurnya lebih tua. Hingga saat ini, hubungannya dengan seluruh karyawan pun terjalin dengan baik.

Toh, ia tak menutupi fakta bahwa budaya senioritas masih kental. Misalnya, seorang staf memunyai ide-ide yang baik. Idealnya, Ainun menuturkan, sang manajer segera merespons. Sayang, si manajer lebih menonjolkan sifat senioritas, sehingga ide brilian itu kandas. Dalam kondisi demikian, tentu informasi dari bawah agak sulit bisa sampai kepadanya. Sekat-sekat semacam itu saat ini mulai dibenahi Ainun, dengan memberi karyawan kesempatan seluas-luasnya berkirim e-mail kepadanya. Di samping itu, Ainun juga memberi kesempatan bawahannya berkomunikasi langsung dengannya. Ke depan, secara bertahap dia berkeinginan melakukan perubahan, agar senioritas tidak lagi menjadi penghambat arus informasi.

Di mata Ilham A. Dilmy, Partner Amrop International, orang yang dari sisi usia lebih muda memang kerap menemui hambatan budaya paternalistis. Boleh jadi, secara teori Ainun mengetahui Pertamina secara detil. Namun, kehadirannya sebagai orang muda di Pertamina dengan posisi sangat penting, sangat mungkin menimbulkan gesekan dengan bawahan, yang rata-rata lebih tua dibandingkan dengan Ainun. Sejatinya, bisa saja Ainun melakukan pembenahan di Pertamina melalui pendekatan budaya egalitarian. Hanya saja, Ilham tidak meyakini itu bisa dilakukannya. Menurutnya, sangat kecil kemungkinannya berhasil. Perlu adanya political will pimpinan pusat Pertamina untuk mengubah budaya perusahaan secara total, bila memang sistemnya ingin berjalan.

Ada alternatif lain sebenarnya yang bisa dipakai. Yakni, memosisikan diri secara tepat di lingkungan BUMN itu. Suatu saat dia harus bisa memosisikan diri sebagai atasan, dan di saat lain sebagai orang muda. Menurutnya, ada pengalaman menarik yang mungkin bisa dijadikan contoh. Ini terjadi di perusahaan Tugu Pratama, perusahaan yang bernaung di bawah Pertamina. Salah satu pegawainya yang masih berusia 32 tahun diangkat menjadi manajer, membawahkan pegawai yang rata-rata berumur 40 tahun ke atas.

Sang manajer muda ternyata cukup cermat memosisikan diri. Misalnya, dia biasa menyapa bawahannya dengan sebutan bapak. Sebaliknya, dia menyarankan bawahannya yang sudah tua memanggilnya dengan nama saja. Strategi lainnya, selama ini dia memberi kepercayaan penuh bawahannya yang rata-rata lebih senior. Artinya, mereka tidak melulu ditanya soal pekerjaan terus-menerus. Kalau ditanya soal pekerjaan terus, tentu mereka merasa gerah. Cukup diberi kepercayaan secara penuh, mereka pun mengerjakannya secara leluasa.

Intinya, menurut Ilham, keberhasilan sang yunior terletak pada bagaimana dia bisa memosisikan diri. Yang lebih penting, harus ada keberanian mendelegasi wewenang ke bawahan yang lebih tua. Berikan mereka kepercayaan penuh, dan manajer cukup tutwuri handayani. Ini penting, untuk menghindari konflik yang mungkin terjadi, karena perbedaan usia.

Tanpa upaya itu, Ilham menduga, pimpinan sulit berhasil membawahkan para pegawai yang lebih senior. Maklum, Ilham sendiri pernah punya pengalaman yang kurang-lebih sama, saat dia bekerja pada perusahaan minyak asing terkemuka. Saat itu, ia berumur 36 tahun, sedangkan bawahannya rata-rata di atas 50 tahun. Saat pertama kali masuk ke perusahaan, banyak di antara bawahan yang memandang sebelah mata kehadirannya.

Ia lantas menerapkan strategi pendekatan dan menghargai mereka, sebagai orang yang yang lebih senior dan jauh berpengalaman. Kerap kali bawahannya itu ditanya dan dilibatkan ketika dia akan mengambil keputusan. Dia bahkan tidak segan-segan menanyakan ke bawahan, walaupun kadang-kadang jawabannya sudah tahu. Itu sengaja dilakukan sebagai strategi menghargai mereka.

Menurutnya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan seorang profesional ketika ia harus membawahkan orang-orang yang lebih tua: Mengubah budaya, mengubah peranan, dan sering bertanya ke bawahan. Dengan upaya itu, diharapkan bisa tercipta keberhasilan, tanpa harus mengorbankan harga diri bawahan yang lebih tua.

Mempromosi Diri Secara Profesional

Jika seseorang kuat dan tegar, justru ia harus pandai menyamarkan diri, agar terlihat lemah dan tak berdaya. Petuah Sun Tzu itu, tentu saja, tak bisa diterapkan di medan karier. Berpura-pura lemah dan tak berdaya, boleh jadi semacam trik atau strategi berperang memperdayai musuh. Namun, di kancah pergulatan karier, seseorang justru harus mempromosi kehebatannya. Becik ketitik, ala ketara -- yang baik akan tampak, yang buruk akan terlihat -- tak berlaku di jagat karier. Bagaimana orang tahu kemampuan dan prestasi Anda, kalau Anda diam seribu bahasa?

Mempromosi kemampuan dan prestasi bukanlah tindakan bersombong. Mempromosi atau memasarkan diri, justru hal penting yang harus dilakukan seorang profesional. Pasalnya, mempromosi diri dan karier merupakan strategi meraih sukses. Dengan memasarkan kemampuan kita, bentangan dan peluang karier pun terbentang luas. Pentingnya berpromosi ini, diungkapkan Jane Ballback dan Jan Slater dalam bukunya: Marketing Yourself and Your Career. Memasarkan diri memberi peluang lebih besar bagi karier seseorang. Sebab, kegiatan ini, menurutnya, bisa membukakan pintu peluang-peluang baru, sehingga menciptakan pekerjaan atau karier yang diinginkan.

Dengan begitu, seharusnya mempromosi diri harus terus dilakukan, meski seseorang telah puas dengan karier yang dilakoninya sekarang. Kegiatan berpromosi itu pun tidak tabu dilakukan seseorang, yang merasa tak bermasalah dengan pekerjaannya, dan merasa enjoy dengan kariernya. Memasarkan diri harus menjadi kebiasaan, begitu ditulis konsultan manajemen di perusahaan konsultasi Baldwin Group, Newport Beach, Amerika Serikat.

Dalam kacamata Avaraily Z.A. Sampulawa, Koordinator Rekrutmen The Jakarta Consulting Group, kegiatan mempromosi diri sebaiknya tidak dilakukan secara membabi buta, karena bisa menimbulkan kesan norak dan kampungan. "Sampaikan dengan bahasa yang komunikatif," ia menyarankan, dan menurutnya pula, seseorang yang sering berkoar-koar ke sana kemari menuturkan kehebatan dirinya, terbukti tak memiliki kehebatan prestasi. Dalam pandangan Avaraily, seseorang yang memiliki prestasi dan kemampuan hebat dengan sendirinya terlihat berkilau. "Seorang profesional yang memiliki good performance pasti dicari para head hunter," ungkapnya.

Dalam kerangka memasarkan diri, ia menilai, jejaring juga merupakan elemen yang penting dikembangkan, sehingga kapabilitas dan kredibilitasnya diketahui, paling tidak di industri yang digelutinya. Dikatakan Avaraily, mempromosi diri harus dilakukan secara profesional dan, "Harus mengetahui core competency yang dijualnya."

Bagaimana mempromosi diri yang efektif dan profesional? Menurut Jane, menjual potensi diri tanpa memperhatikan semua faktor yang terlibat di dalamnya, ibarat perusahaan yang mencoba menjual produknya tanpa memperhatikan mutu-keunggulan-harga-promosi-distribusi. Intinya, memasarkan diri sama saja dengan memasarkan produk ke pasar. Pemasaran diri tidak bisa sekadar mengandalkan curriculum vitae. Namun, meliputi pula aspek 5P --produk, promosi, place, price dan positioning.

Dalam memasarkan diri, produk yang dijual adalah Anda sendiri. Bukan semata daftar panjang riwayat perjalanan karier. Produknya adalah keterampilan, prestasi, pendidikan formal, kredibilitas, pelatihan yang diikuti, latar belakang, pengalaman, jabatan, kepribadian, penampilan dan sikap. Untuk mempromosi diri secara benar, seseorang perlu berfokus pada pesan yang disampaikan, cara penyampaiannya, dan siapa penerimanya. Seseorang bisa memasarkan diri secara formal maupun informal kepada atasan, kolega atau para pengambil keputusan di perusahaan lain.

Supaya "jualan" Anda berhasil, tentukanlah lokasi yang dijadikan tempat memasarkan produk yang dimiliki (place). Sebagai orang yang memasarkan diri, Anda pun harus memberi harga Anda sesuai dengan citra dan produk yang ditawarkan (price). Memasarkan diri sejatinya taktik menjual. Aspek yang harus digali: Memahami diri sendiri dan menampilkannya, menghadirkan kesan pada orang yang tepat di situasi yang tepat pula, memberi harga yang layak pada diri sendiri, dan memosisikan diri guna memperoleh dampak karier yang signifikan.

Marketing Yourself and Your Career memberikan tip berikut:

(1) Pelajari diri Anda baik-baik, supaya dapat mempromosi diri secara efektif. (2) Pertimbangkan citra apa yang Anda tunjukkan? (3) Bagaimana caranya dan kepada siapa ditujukan? (4) Perjelas, siapa "pembeli" kemampuan dan kepiawaian Anda. (4) Tentukan harga Anda sesuai dengan kemampuan, keterampilan dan tujuan Anda bekerja.

Seperti telah disinggung di atas, memasarkan diri juga perlu dilakukan, meski seseorang tidak berniat berpaling ke industri atau perusahaan lain. Seseorang yang betah dan enjoy dengan kariernya, perlu pula memasarkan diri. Mempromosi diri dalam organisasi bermakna lebih dari sekadar naik jabatan, tetapi juga perpindahan jabatan, memanfaatkan kesempatan yang berbeda, serta memperkaya pekerjaan yang sedang ditekuni. Dalam kerangka mempromosi diri, sebaiknya Anda membahas karier dengan atasan, setidaknya sekali dalam setahun.