Sabtu, 29 November 2008

Followership

Banyak sekali buku, artikel, dan seminar yang membahas soal leadership. Banyak perusahaan, lembaga pemerintah, LSM melakukan workshop dan pelatihan mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan mumpuni. Tapi sangat jarang sekali buku, artikel, atau seminar mengenai bagaimana menjadi follower yang baik dan efektif. Bahkan saya belum pernah mendengar ada workshop dan pelatihan di Indonesia mengenai followership. Padahal seorang pemimpin (leader) tak akan bisa jalan tanpa pengikut (follower). Leadership tak akan oke kalau followership-nya tidak oke. Pemimpin sehebat dan sekarismatik Gandi, Jack Welch, Aa Gym, atau Cacuk, tak akan bisa berbuat apa-apa tanpa andil pengikut-pengikutnya.

Kebetulan belum lama ini saya membaca sebuah buku yang bagi saya sangat inspiratif berjudul, Courageous Follower. Tesis buku ini simpel sekali: bahwa hubungan pemimpin-pengikut adalah hubungan yang sejajar, bukan hubungan atas-bawah. Dari pengalaman saya melakukan konsultasi di berbagai perusahaan, saya melihat barangkali sekitar 80-90% pemimpin bisnis masih melihat hubungan pemimpin-pengikut sebagai hubungan atas-bawah: si pemimpin di atas, si pengikut di bawah; si pemimpin lebih dominan dan powerful, si pengikut lemah dan selalu terkalahkan; si pemimpin meng-empower pengikut, si pengikut di-empower si pemimpin; si pemimpin merumuskan visi, si pengikut menjalankan visi tersebut; pemimpin menjadi subyek, si pengikut menjadi obyek penderita. Inilah, saya kira, kesalahan terfatal dari seorang pemimpin.

Konsep kepemimpinan di buku teks manapun seharusnya diredefinisi dengan menempatkan hubungan pemimpin-pengikut bukan lagi hubungan atas-bawah, tapi hubungan egaliter yang saling mendukung, saling memberi, saling mengingatkan, dan saling melayani. Tak hanya si pemimpin yang mengembangkan potensi pengikutnya, si pengikut juga harus mengembangkan potensi pemimpinnya. Tak hanya si pemimpin yang memberdayakan pengikutnya, si pengikut juga harus memberdayakan pemimpinnya kalau memang si pemimpin loyo. Tak hanya si pemimpin yang mengarahkan pengikutnya, si pengikutpun harus mengarahkan si pemimpin kalau visi yang dia bangun melenceng dari tujuan organisasi. Semakin si pemimpin mendominasi dan menjadi tiran bagi si pengikut, maka bisa saya pastikan, semakin tak beres kepemimpinan yang dihasilkannya. Hasil kepemimpinan yang sama buruknya juga akan didapat, jika si pengikut begitu pasif memposisikan diri di bawah, kemudian ABS (asal bapak senang) dan tidak berani mengoreksi si pemimpin.

Saya paling tertarik dengan model yang diajukannya. Kata buku ini, setiap organisasi apapun apakah itu bisnis, politik, LSM, selalu saja memiliki dua unsur yaitu pemimpin dan pengikut. Pemimpin-pengikut ini diikat oleh misi dan tujuan bersama (common purpose) dan nilai-nilai (shared values) yang dipegang oleh organisasi tersebut. Tujuan tak lain adalah apa yang ingin dicapai oleh organisasi, sementara nila-nilai adalah hal-hal yang dianggap paling baik untuk menjalankan organisasi. Keduanya merupakan ”lem” yang mengikat setiap tindakan pemimpin-pengikut. Si pemimpin dan si pengikut ini bersama-sama berjuang untuk mewujudkan misi dan tujuan organisasi, berlandaskan nilai-nilai yang diyakini organisasi tersebut.

Pemimpin dan pengikut secara bersama-sama haruslah menjadi ”penjaga” misi dan tujuan organisasi. Kalau si pengikut melakukan tindakan yang menyimpang dari misi dan tujuan organisasi, maka menjadi kewajiban si pemimpin untuk meluruskannya. Begitu juga sebaliknya jika si pemimpin yang justru melakukan penyimpangan, maka si pengikutlah yang seharusnya mati-matian mencegahnya. Karena itu tak hanya pemimpin yang harus take risk, si pengikutpun haruslah take risk. Kenapa? Karena melakukan konfrontasi terhadap pemimpin yang menyeleweng bukanlah tanpa resiko. Bisa-bisa ia dipecat karena konfrontasi itu.

Tak hanya si pemimpin yang punya tanggung-jawab mewujudkan misi dan tujuan organisasi, si pengikut sama bertanggung-jawabnya dalam mewujudkan misi dan tujuan tersebut. Si pemimpin haruslah melayani si pengikut dalam mewujudkan misi dan tujuan tersebut, sebaliknya si pengikut juga harus melayani pemimpinnya. Seorang pemimpin harus mampu mengembangkan pengikutnya, sebaliknya si pengikut haruslah mampu mengembangkan pemimpinnya. Kalau dalam buku teks kepemimpinan kita sering mendengar bahwa pemimpin haruslah memberdayakan (empower) pengikutnya, maka sebaliknya, pengikut juga harus mampu memberdayakan pemimpinnya. Dari sinilah kita sepakat bahwa hubungan pemimpin-pengikut haruslah hubungan partnership, sejajar, dan egaliter.

Misi dan tujuan organisasi merupakan ”jantung” yang menentukan hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Loyalitas seorang pengikut seharusnya bukanlah kepada si pemimpin tapi kepada misi dan tujuan organisasi. Begitu si pemimpin menyimpang dari misi dan tujuan, maka tugas si pengikut bukannya ikut arus si pemimpin tapi, tapi justru menentang si pemimpin untuk masuk ke rel misi dan tujuan organisasi.

Hal ini barangkali ironis kalau kita melihat kasus di negeri ini. Begitu si pemimpin melakukan korupsi, maka ini justru digunakan oleh si pengikut sebagai pembenaran untuk juga melakukan korupsi. Itu sebabnya saya mengatakan bahwa negeri ini tak hanya lack of leadership, tapi juga lack of followership.

All Marketer Are Liar

Membangun merek adalah meracik dan menyebarkan cerita!
Anda ingin merek atau produk Anda sukses bukan kepalang? Raciklah cerita-cerita yang indah dan sebarkanlah ke sebanyak mungkin prospek Anda.
Bisa cerita itu beneran. Bisa juga cerita itu boong-boongan...ups! [...setidaknya menurut Seth Goddin—baca buku kocaknya: All Marketers Are Liars!].

Produk atau merek sesungguhnya tak lebih dari sekedar CERITA! Dan karenanya, jualan merek atau produk tak lain adalah JUALAN CERITA.

Nggak percaya?
Jualan BreadTalk tak lebih dari jualan cerita—cerita mengenai ”roti yang bisa berkisah”. Jualan Starbucks tak lebih dari jualan cerita—cerita mengenai ”ngopi sambil cuci mata dan mejeng—”see and to be seen”. Jualan Harley Davidson tak lebih dari jualan cerita—cerita mengenai “naik motor keren, macho, dan Amrik abis. Jualan A Mild adalah jualan cerita—cerita bahwa seharusnya Anda menjadi manusia merdeka, tak terkungkung oleh stigma sosial bernama ”basa basi”.

Apakah betul BreadTalk roti yang bisa berkisah? Apakah betul Harley Davidson macho dan Amrik abis? Apakah betul ngopi di Starbuck Mal Kelapa Gading Anda tambah keren dan menjadi pusat perhatian banyak orang? [Setidaknya bagi saya...] itu semua bullshit!!! Kebetulan saya bukanlah tipe orang yang suka dikibuli dengan trik-trik pemasaran... brand story-lah, brand personality-lah, brand identity-lah, brand-essence-lah, dsb-dsb.

Di dunia ini banyak orang kayak saya, yang nggak peduli dengan buzzword dan trik-trik pemasaran. Cuma... CELAKA 13, banyak juga orang yang nggak kayak saya. Banyak orang yang suka romantis, suka dihipnotis, suka dibohongi, suka dikibuli. Itu sebabnya BradTalk sukses bukan main... itu sebabnya Starbuck sukses bukan main.

Dalam hal ini saya percaya dengan Godin, bahwa semua marketer adalah pembohong besar. All Marketers Are Liars! Tapi tunggu dulu... marketer pembohong besar bukannya tanpa sebab. Sumbernya justru ada di si pelanggan. Karena si pelanggan memang SUKA dibohongi. Customers love to be cheated. Jadi semua kebohongan ini bukan semata-mata salahnya si marketer. Si pelanggan lah pihak yang paling bertanggung jawab kenapa marketers harus menjadi pembohong besar...

Apakah cerita BreadTalk sahih? Apakah cerita Harley indah menentramkan jiwa? Cerita A Mild benar adanya? Itu semua tergantung kita pelanggan. Kalau kita percaya bahwa cerita itu benar, ya jadinya benar. Tapi kalau kita percaya [kayak saya] cerita itu bullshit, ya jadinya cerita itu tak lebih dari sekedar bullshit belaka.

Ingat satu hal ini!
Pelanggan paling SUKA di-bullshit-in.
Pelanggan paling SUKA dibohongi.
Pelanggan paling SUKA membohongi diri sendiri.
Pelanggan tak butuh NEEDS, dia butuh WANTS—“Kutahu yang kumau”.
Itu sebabnya marketer [memang harus] menjadi pembohong besar!
Marketer menjadi pembohong besar karena pelanggan suka dibohongi... itulah esensi terdalam dari apa yang disebut CUSTOMER-CENTRIC.

Kesimpulannya...
Marketer dan pelanggan telah terperosok ke dalam l-i-n-g-k-a-r-a-n kebohongan yang tak berujung. Lingkaran kebohongan yang mutualistik, yang win-win, yang membawa NIKMAT. Nikmat bagi si marketer. Nikmat bagi si pelanggan. Kalau sudah begini, so what gitu lho... Apa jeleknya marketer menjadi pembohong besar?
Nggak ada jeleknya. Justru sebaliknya, [persis seperti kata Seth Godin] untuk menjadi marketer Anda harus menjadi pembohong kampiun. Good Marketer is good liar!

Awas!!!
Barangkali penulis adalah marketer yang sedang membohongi Anda semua para pembaca...